RSS

LAPORANANALISIS MASALAH PEMANASAN GLOBAL

22 Nov

  1. PENDAHULUAN
    1. Pengertian Pemanasan Global

      Pemanasan global atau Global Warming adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir.


     

     

     

     

     

     

              Gambar 1 Gambaran peningkatan suhu rata-rata di Bumi



 

 

 

 

 

 

Gambar 2 Suhu Permukaan Global dalam Beberapa Tahun

Berdasarkan gambar di atas, suhu rata-rata udara di permukaan Bumi meningkat 0,75ºC pada abad lalu, tetapi naiknya berlipat ganda dalam 50 tahun terakhir. Badan PBB, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), memproyeksikan bahwa pada tahun 2100 suhu rata-rata dunia cenderung akan meningkat dari 1,8ºC menjadi 4ºC dan skenario terburuk bisa mencapai 6,4ºC kecuali dunia mengambil tindakan untuk membatasi emisi gas rumah kaca. Sepertinya, angka tersebut memang tidak begitu besar. Akan tetapi, perlu diketahui selama Zaman Es terakhir sekitar 11.500 tahun yang lalu, suhu rata-rata dunia hanya 5ºC lebih rendah daripada suhu udara sekarang, dan saat itu hampir seluruh benua Eropa tertutup lapisan es tebal. Jika tren pemanasan ini terus berlanjut maka 11 tahun terpanas dalam sejarah semuanya terjadi hanya dalam 12 tahun terakhir.

  1. Penyebab terjadinya Pemanasan Global
  • Efek Rumah Kaca

Pada prinsipnya efek rumah kaca dapat diterangkan dengan gambar sebagai berikut:


 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3 Proses Efek Rumah Kaca

Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini tiba permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca, yang antara lain adalah uap air (H2O), karbon dioksida (CO2), dan metana (CH4). Gas rumah kaca inilah yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan bumi. Akibatnya, suhu di permukaan bumi akan menjadi hangat. Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F) dari temperatur semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Namun demikian, efek rumah kaca ini akan menyebabkan pemanasan global apabila gas-gas rumah kaca tersebut telah berlebihan di atmosfer dan akan mengakibatkan pemanasan global. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.

Setiap gas rumah kaca memiliki efek pemanasan global yang berbeda-beda. Beberapa gas menghasilkan efek pemanasan lebih parah dari CO2. Sebagai contoh sebuah molekul metana menghasilkan efek pemanasan 23 kali dari molekul CO2. Molekul NO bahkan menghasilkan efek pemanasan sampai 300 kali dari molekul CO2. Gas-gas lain seperti chlorofluorocarbons (CFC) ada yang menghasilkan efek pemanasan hingga ribuan kali dari CO2. Tetapi untungnya pemakaian CFC telah dilarang di banyak negara karena CFC telah lama dituding sebagai penyebab rusaknya lapisan ozon.

Dalam laporan terbaru, Fourth Assessment Report, yang dikeluarkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), satu badan PBB yang terdiri dari 1.300 ilmuwan dari seluruh dunia, terungkap bahwa 90% aktivitas manusia selama 250 tahun terakhir inilah yang membuat planet kita semakin panas.
Sejak Revolusi Industri, tingkat karbon dioksida beranjak naik mulai dari 280 ppm menjadi 379 ppm dalam 150 tahun terakhir. Tidak main-main, peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer Bumi itu tertinggi sejak 650.000 tahun terakhir. IPCC juga menyimpulkan bahwa 90% gas rumah kaca yang dihasilkan manusia, seperti karbon dioksida, metana, dan nitro oksida, khususnya selama 50 tahun ini, telah secara drastis menaikkan suhu Bumi. Sebelum masa industri, aktivitas manusia tidak banyak mengeluarkan gas rumah
kaca, tetapi pertambahan penduduk, pembabatan hutan, industri peternakan, dan penggunaan bahan bakar fosil menyebabkan gas rumah kaca di atmosfer bertambah banyak dan menyumbang pada pemanasan global.

Gambar 4 Grafik Peningkatan Kadar CO2 hingga tahun 2007

Sumber Gas Rumah Kaca yang Menyebabkan Pemanasan Global:

  1. Peternakan

    Pada tahun 2006, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mengeluarkan laporan “Livestock’s Long Shadow” dengan kesimpulan bahwa sektor peternakan merupakan salah satu penyebab utama pemanasan global. Sumbangan sektor peternakan terhadap pemanasan global sekitar 18%,
    lebih besar dari sumbangan sektor transportasi di dunia yang menyumbang sekitar 13,1%. Selain itu, sektor peternakan dunia juga menyumbang 37% metana (72 kali lebih kuat daripada CO2 selama rentang waktu 20 tahun), dan 65% nitro oksida (296 kali lebih kuat daripada CO2).

    Berikut garis besar menurut FAO bagaimana sektor peternakan mengakibatkan pemanasan global:

    1. Emisi karbon dari pembuatan pakan ternak
      1. Penggunaan bahan bakar fosil dalam pembuatan pupuk menyumbang 41 juta ton CO2 setiap tahunnya
      2. Penggunaan bahan bakar fosil di peternakan menyumbang 90 juta ton CO2 per tahunnya (misal diesel atau LPG)
      3. Alih fungsi lahan yang digunakan untuk peternakan menyumbang 2,4 milyar ton CO2 per tahunnya, termasuk di sini lahan yang diubah untuk merumput ternak, lahan yang diubah untuk menanam kacang kedelai sebagai makanan ternak, atau pembukaan hutan untuk lahan peternakan
      4. Karbon yang terlepas dari pengolahan tanah pertanian untuk pakan ternak (misal jagung, gandum, atau kacang kedelai) dapat mencapai 28 juta CO2 per tahunnya. Perlu Anda ketahui, setidaknya 80% panen kacang kedelai dan 50% panen jagung di dunia digunakan sebagai makanan ternak.
      5. Karbon yang terlepas dari padang rumput karena terkikis menjadi gurun menyumbang 100 juta ton CO2 per tahunnya
  • Emisi karbon dari sistem pencernaan hewan
  1. Metana yang dilepaskan dalam proses pencernaan hewan dapat mencapai 86 juta ton per tahunnya.
  2. Metana yang terlepas dari pupuk kotoran hewan dapat mencapai 18 juta ton per tahunnya.
  • Emisi karbon dari pengolahan dan pengangkutan daging hewan ternak ke konsumen
  1. Emisi CO2 dari pengolahan daging dapat mencapai puluhan juta ton per tahun.
  2. Emisi CO2 dari pengangkutan produk hewan ternak dapat mencapai lebih dari 0,8 juta ton per tahun.
  1. Pembangkit Energi

    Sektor energi merupakan sumber penting gas rumah kaca, khususnya karena energi dihasilkan dari bahan bakar fosil, seperti minyak, gas, dan batu bara, di mana batu bara banyak digunakan untuk menghasilkan listrik. Sumbangan sektor energi terhadap emisi gas rumah kaca mencapai 25,9%.

  2. Industri

    Sumbangan sektor industri terhadap emisi gas rumah kaca mencapai 19,4%. Sebagian besar sumbangan sektor industri ini berasal dari penggunaan bahan bakar fosil untuk menghasilkan listrik atau dari produksi C02 secara langsung sebagai bagian dari pemrosesannya, misalnya saja dalam produksi semen. Hampir semua emisi gas rumah kaca dari sektor ini berasal dari industri besi, baja, kimia, pupuk, semen, kaca dan keramik, serta kertas.

  3. Pertanian

    Sumbangan sektor pertanian terhadap emisi gas rumah kaca sebesar 13,5%. Sumber emisi gas rumah kaca pertama-tama berasal dari pengerjaan tanah dan pembukaan hutan. Selanjutnya, berasal dari penggunaan bahan bakar fosil untuk pembuatan pupuk dan zat kimia lain. Penggunaan mesin dalam pembajakan, penyemaian, penyemprotan, dan pemanenan menyumbang banyak gas rumah kaca. Yang terakhir, emisi gas rumah kaca berasal dari pengangkutan hasil panen dari lahan pertanian ke pasar.

  4. Alih Fungsi Lahan dan Pembabatan Hutan

    Sumber lain C02 berasal dari alih fungsi lahan di mana ia bertanggung jawab sebesar 17.4%. Pohon dan tanaman menyerap karbon selagi mereka hidup. Ketika pohon atau tanaman membusuk atau dibakar, sebagian besar karbon yang mereka simpan dilepaskan kembali ke atmosfer. Pembabatan hutan juga melepaskan karbon yang tersimpan di dalam tanah. Bila hutan itu tidak segera direboisasi, tanah itu kemudian akan menyerap jauh lebih sedikit CO2.

     

  5. Transportasi

    Sumbangan seluruh sektor transportasi terhadap emisi gas rumah kaca mencapai 13,1%.
    Sektor transportasi dapat dibagi menjadi transportasi darat, laut, udara, dan kereta api. Sumbangan terbesar terhadap perubahan iklim berasal dari transportasi darat (79,5%), disusul kemudian oleh transportasi udara (13%), transportasi laut (7%), dan terakhir kereta api (0,5%).

  6. Hunian dan Bangunan Komersial

    Sektor hunian dan bangunan bertanggung jawab sebesar 7,9%. Namun, bila dipandang dari penggunaan energi, maka hunian dan bangunan komersial bisa menjadi sumber emisi gas rumah kaca yang besar. Misalnya saja dalam penggunaan listrik untuk menghangatkan dan mendinginkan ruangan, pencahayaan, penggunaan alat-alat rumah tangga, maka sumbangan sektor hunian dan bangunan bisa mencapai 30%. Konstruksi bangunan juga mempengaruhi tingkat emisi gas rumah kaca. Sebagai contohnya, semen, menyumbang 5% emisi gas rumah kaca.

  7. Sampah

    Limbah sampah menyumbang 3,6% emisi gas rumah kaca. Sampah di sini bisa berasal dari sampah yang menumpuk di tempat Pembuangan Sampah (2%) atau dari air limbah atau jenis limbah lainnya (1,6%). Gas rumah kaca yang berperan terutama adalah metana, yang berasal dari proses pembusukan sampah tersebut.

  • Efek Umpan Balik

     

 

 

 

 

 

 

 

 


Analisis penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat). Umpan balik ini hanya berdampak secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer.

    Efek umpan balik karena pengaruh awan sedang menjadi objek penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan kembali radiasi infra merah ke permukaan, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya menghasilkan pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail tertentu seperti tipe dan ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini sulit direpresentasikan dalam model iklim, antara lain karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan jarak antara batas-batas komputasional dalam model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat). Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua bila dibandingkan dengan umpan balik uap air dan dianggap positif (menambah pemanasan) dalam semua model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat.


    
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya (albedo) oleh es. Ketika temperatur global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersamaan dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air di bawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan.

Umpan balik positif akibat terlepasnya CO2 dan CH4 dari melunaknya tanah beku (permafrost) adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan. Selain itu, es yang meleleh juga akan melepas CH4 yang juga menimbulkan umpan balik positif.

Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila ia menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunya tingkat nutrien pada zona mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan diatom daripada fitoplankton yang merupakan penyerap karbon yang rendah.

 

 

 

  1. URAIAN MASALAH
    1. Dampak Pemanasan Global

    Dalam laporan terakhir Panel PBB untuk Perubahan Iklim disebutkan bahwa rata-rata temperatur global telah naik 1,3°F (setara 0,72 °C) dalam 100 tahun terakhir. Muka air laut mengalami kenaikan rata-rata 0,175 centimeter setiap tahun sejak 1961. Fakta tersebut mau tidak mau memberikan dampak bagi makhluk hidup maupun lingkungan. Dampak pemanasan global tersebut diantaranya:

    1. Iklim Mulai Tidak Stabil

    Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern ) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar, dimana hal ini akan menurunkan proses pemanasan. Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini. Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.

    1. Peningkatan Permukaan Laut

    Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, sehingga memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10-25 cm (4 – 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9–88 cm (4-35 inchi) pada abad ke-21. Berikut diberikan data perubahan tinggi rata-rata permukaan laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi.


    Perubahan tinggi permukaan air laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai. Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi ekosistem pantai. Kenaikan 50 cm (20 inchi) akan menenggelamkan separuh dari rawa-rawa pantai di Amerika Serikat. Rawa-rawa baru juga akan terbentuk, tetapi tidak di area perkotaan dan daerah yang sudah dibangun. Kenaikan muka laut ini akan menutupi sebagian besar dari Florida Everglades.

    1. Suhu Global Cenderung Meningkat

    Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.

    Di Indonesia banyak sekali hasil pertanian yang semakin buruk karena dipengaruhi oleh cuaca yang sudah tidak menentu yang diakibatkan global warming dan global warming juga mempengaruhi hewan hewan contohnya serangga yang bisa merusak hasil pertanian khususnya pangan yang berdampak serangan-serangan serangga yang lebih besar karena cuaca yang tidak menentu.

    1. Gangguan Ekologis

    Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.

    Selain kenaikan permukaan air laut, peningkatan suhu air  laut juga akan berdampak pada keanekaragaman hayati di wilayah pesisir dan laut. Secara umum dengan meningkatnya suhu sebesar 1.5-2.5 °C, maka 20-30% species tumbuhan dan hewan terancam. Untuk ekosistem pesisir dan laut, terumbu karang dan mangrove kini mulai terancam. Akibat El-Nino tahun 1998 saja sekitar 16% karang dunia rusak, antara lain berupa pemutihan (bleaching). Kini, Indonesia memiliki 50 ribu km2 terumbu karang atau sekitar 18% dari luasan terumbu karang dunia. Namun demikian kerusakan terumbu karang di Indonesia tidak hanya karena faktor iklim, tetapi juga karena pengaruh ulah manusia (antropogenik) baik melalui praktek pengeboman maupun sedimentasi, dan seterusnya. Berdasarkan Status Lingkungan Hidup Indonesia (2005), kita memiliki 590 spesies terumbu karang. Dengan terumbu karang seluas 50 ribu km2, sekitar 5.83% sangat baik, 25% baik, 36.59% sedang, dan 31.29% rusak.

    1. Dampak Pemanasan Global terhadap Kesehatan

    Pemanasan global (Global Warming) memberi dampak pada berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk pada bidang kesehatan. The Washington Post menggambarkannya dalam sebuah diagram yang menarik:


Pada gambar di atas, dapat dilihat bagaimana pemanasan global akan mempengaruhi perubahan lingkungan seperti: perubahan cuaca dan lautan, pergeseran ekosistem dan degradasi lingkungan.

Perubahan cuaca dan lautan dapat berupa peningkatan temperatur secara global (panas) yang dapat mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit yang berhubungan dengan panas (heat stroke) dan kematian, terutama pada orang tua, anak-anak dan penyakit kronis. Temperatur yang panas juga dapat menyebabkan gagal panen sehingga akan muncul kelaparan dan malnutrisi. Perubahan cuaca yang ekstrem dan peningkatan permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub utara dapat menyebabkan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan bencana alam (banjir, badai dan kebakaran) dan kematian akibat trauma. Timbulnya bencana alam biasanya disertai dengan perpindahan penduduk ke tempat-tempat pengungsian dimana sering muncul penyakit, seperti: diare, malnutrisi, defisiensi mikronutrien, trauma psikologis, penyakit kulit, dan lain-lain.

Pergeseran ekosistem dapat memberi dampak pada penyebaran penyakit melalui air (Waterborne diseases) maupun penyebaran penyakit melalui vektor (vector-borne diseases). Contohnya yaitu meningkatnya kejadian Demam Berdarah. Nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor penyakit ini memiliki pola hidup dan berkembang biak pada daerah panas. Hal itulah yang menyebabkan penyakit ini banyak berkembang di daerah perkotaan yang panas dibandingkan dengan daerah pegunungan yang dingin. Namun dengan terjadinya Global Warming, dimana terjadi pemanasan secara global, maka daerah pegunungan pun mulai meningkat suhunya sehingga memberikan ruang (ekosistem) baru untuk nyamuk ini berkembang biak.

Degradasi Lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran limbah pada sungai juga berkontribusi pada waterborne diseases dan vector-borne disease. Ditambah pula dengan polusi udara hasil emisi gas-gas pabrik yang tidak terkontrol selanjutnya akan berkontribusi terhadap penyakit-penyakit saluran pernafasan seperti asma, alergi, coccidiodomycosis, penyakit jantung dan paru kronis, dan lain-lain.

  1. Dampak Terhadap Sosial Ekonomi

Jika terjadi  kenaikan air laut di indonesia maka akan hilangnya pulau-pulau kecil merupakan ancaman langsung, tidak saja berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi dan ekosistem tetapi juga terhadap Geopolitik mengingat pulau terluar merupakan pijakan penting dalam menentukan batas wilayah dengan negara lain.

Rusaknya terumbu karang akan sangat mengganggu kegiatan sosial ekonomi masyarakat, mengingat terumbu karang memiliki fungsi sebagai tempat pemijahan dan bertelur, sehingga sangat mempengaruhi stok ikan. Berdasarkan data, sekitar 30 juta nelayan di dunia tergantung pada ikan-ikan karang. Dan, setengah kebutuhan protein dan kandungan gizi untuk 400 juta orang miskin di dunia disuplai dari ikan. Belum lagi nilai ekonomi untuk wisata bahari juga akan terpengaruh. Selain itu, masyarakat yang tinggal di daerah pesisir akan menjadi korban yang begitu nyata, beberapa nelayan yang menangkap ikan disana,sebagian besar merasakan dampak terhadap cuaca yang semakin sulit ditentukan kapan sebaiknya melaut karena musim ikan semakin sulit diprediksi.

  1. Pengendalian Pemanasan Global

Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca sebagai penyebab pemanasan global. Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbonnya di tempat lain. Cara ini disebut carbon sequestration (menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah kaca.

  1. Menghilangkan karbon (carbon sequestration)dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:

1. Di bawah tanah atau penyimpanan air tanah


Bawah tanah atau air bawah tanah bisa digunakan untuk menyuntikkan emisi CO2 ke dalam lapisan bumi atau ke dalam lautan. Lapisan bumi yang dapat digunakan adalah penyimpanan alami minyak dan gas bumi di tambang-tambang minyak. Dengan memompakan CO2 kedalam tempat-tempat penyimpanan minyak di perut bumi akan membantu mempermudah pengambilan minyak atau gas yang masih tersisa. Hal ini bisa menutupi biaya penyembunyian karbon. Lapisan garam dan batubara yang dalam juga bisa menyembunyikan karbon dioksida.

Lautan juga dapat menyimpan banyak karbon dioksida, tetapi para ilmuwan belum dapat menetapkan pengaruhnya terhapad lingkungan hidup di dalam laut.

2. Penyimpanan di dalam tanaman hidup

Tumbuhan hijau menyerap CO2 dari udara untuk tumbuh. Kombinasi karbon dari CO2 dengan hidrogen diperlukan untuk membentuk gula sederhana yang disimpan di dalam jaringan. Setelah tanaman mati maka tubuhnya akan terurai dan melepaskan CO2. Ekosistem dengan tumbuh-tumbuhan yang berlimpah seperti hutan atau perkebunan dapat menahan lebih banyak karbon, tetapi generasi manusia yang akan datang harus tetap menjaga ekosistem agar tetap utuh, jika tidak maka karbon yang disimpan dalam tanaman akan lepas kembali ke atmosfer.

  1. Membatasi emisi CO2 untuk mengurangi produksi gas rumah kaca

Teknik yang efektif untuk membatasi emisi karbon ada dua yakni mengganti energi minyak dengan sumber energi lainnya yang tidak mengemisikan karbon dan yang kedua penggunaan energi minyak sehemat mungkin. Energi alternatif yang dapat digunakan diantaranya angin, sinar matahari, energi nuklir, dan panas bumi. Kincir angin dapt merubah energi angin menjadi energi listrik. Sinar matahari juga dapat dirubah menjadi energi listrik atau sumber panas yang bisa dimanfaatkan seperti pemanas air, kompor matahari, dll. Energi panas bumi bisa dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik. Sumber energi alternatif memang lebih mahal dibanding energi minyak namun penelitian lebih lanjut akan membantu untuk lebih menekan biaya.

Emisi CO2 dapat dikurangi jika mobil-mobil bisa lebih hemat bahan bakar. Para ilmuwan dan insinyur telah bekerja untuk menciptakan mesin yang hemat bahan bakar. Penemuan-penemuan telah mengembangkan alat untuk menggantikan mesin pembakaran atau menggunakan mesin yang lebih kecil. Sebuah mobil dengan tenaga batery listrik telah memasuki pasar, tetapi masih dilengkapi dengan mesin kecil berbahan bakar minyak. Bahan bakar sel yakni sebuah alat yang mampu merubah energi kimia menjadi energi listrik bisa dikembangkan untuk mobil-mobil di masa depan.

 

  1. Pengaruh Langsung di Indonesia

Global warming yang terjadi dewasa ini memberikan perubahan yang sangat signifikan di berbagai negara di belahan bumi, tidak terkecuali Negara Indonesia. Sebagai negara yang terletak tepat di ekuator, bisa dikatakan Indonesia merupakan negara yang pertama kali akan merasakan dampak langsung global warming. Perubahan iklim drastis yang kita rasakan sejak tahun 1998 yaitu meningkatnya suhu udara dan akan terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Pengaruh global warming tidak hanya pada perubahan iklim, berbagai sektor di Indonesia juga mendapat imbas yang cukup besar. Berikut ini beberapa sektor yang mengalami perubahan akibat adanya global warming.

  • Perubahan Iklim Indonesia

Orang-orang sering mengira perubahan iklim sama dengan pemanasan global, padahal keduanya merupakan dua hal yang berbeda. Perubahan iklim adalah perubahan variabel iklim, khususnya suhu udara dan curah hujan yang terjadi secara berangsur-angsur dalam jangka waktu yang panjang. Sedangkan pemanasan global merupakan peningkatan temperatur rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi. Iklim dan cuaca merupakan fenomena alam yang terjadi di lapisan troposfer (lapisan atmosfer terdekat dengan kehidupan manusia). Pada lapisan ini, hampir semua jenis cuaca, perubahan suhu yang mendadak, angin tekanan, dan kelembaban yang kita rasakan sehari-hari berlangsung serta terjadi peristiwa cuaca seperti hujan, musim salju, kemarau, dan sebagainya. Apabila lapisan troposfer rusak, maka perubahan hal-hal yang berhubungan dengan cuaca dan iklim tidak bisa dihindari lagi.

Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil karena es yang terapung di perairan Utara berkurang. Suhu pada  malam hari cenderung meningkat. Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan.

Uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya dapat meningkatkan efek insulasi  pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga dapat memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar. Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan rata-rata sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. Badai akan menjadi lebih sering dan air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh keku-atannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim dan bencana alam akan terjadi.


Tak bisa dipungkiri bahwa pemanasan global yang dapat menyebab-kan penipisan lapisan ozon juga dapat menyebabkan perubahan iklim (climate change). Karena terletak di sekitar khatulistiwa, Indonesia akan mengalami efek langsung dari pemanasan global. Hal ini terbukti dari perubahan iklim ekstrim
yang menyebabkan musim kemarau yang semakin panjang serta musim hujan yang semakin pendek periodenya namun dengan peningkatan intensitas curah hujan dan sudah dirasakan oleh masyarakat di tanah air.

Di beberapa daerah (misalnya Kalimantan) terjadi kemarau panjang, kekeringan, krisis air bersih, dan kebakaran hutan yang dapat menambah emisi gas CO2 di atmosfer. Akibatnya suhu atmosfer juga akan semakin panas dan setiap tahunnya mengalami peningkatan sebesar 1,5 sampai 2,5°C. Namun di beberapa daerah lain, terjadi peningkatan curah hujan yang cukup besar dan sering menyebabkan terjadinya banjir.
Penelitian dari Badan Meteorologi dan Geofisika menyebutkan bahwa Februari 2007 merupakan periode dengan intensitas curah hujan tertinggi selama 30 tahun terakhir di Indonesia.

Kenaikan suhu atmosfer juga menyebabkan kenaikan suhu air laut. Mencairnya es di Kutub Utara dan Kutub Selatan menyebabkan peningkatan air laut, termasuk indonesia yang notabene merupakan negara maritim. Selain itu, Indonesia juga merupakan negara kepulauan dengan luas total daratan 1,9 juta kilometer persegi, yang terbagi atas 18.000 pulau. Adapun luas lautan mencapai 5,8 juta kilometer persegi, termasuk zona ekonomi eksklusif. Ibu kota negara dan hampir semua ibu kota provinsi terletak di wilayah pantai serta 65 persen penduduk tinggal di wilayah pesisir dengan panjang pantai total sekitar 81 ribu kilometer. Menurut IPCC (Inter Governmental Panel on Climate Change), pada tahun 2030 bisa terjadi kenaikan permukaan air laut sebesar 8-29 cm dibandingkan dengan permukaan air laut saat ini. Bila hal ini terjadi, maka dikhawatirkan Indonesia bisa kehilangan sekitar 2000 pulau-pulau kecil dari 18.000 jumlah pulau yang ada. Hal ini tentunya secara langsung sangat berdampak pada pengurangan luas wilayah Indonesia secara geografis.

Faktanya, kenaikan permukaan air laut sudah terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Beberapa kali Jakarta terendam banjir karena jebolnya tanggul karena tidak mampu menampung air laut. Tidak hanya di Jakarta, tapi juga di beberapa daerah pesisir di indonesia. Selain itu, beberapa daerah juga mengalami peningkatan volume air laut dan pergesekan lempeng sehingga mengakibatkan tsunami.

 

  • Berkurangnya Keanekaragaman Hayati

Peningkatan suhu bumi sebesar 1,5-2,5°C menyebabkan punahnya beberapa flora dan fauna sehingga menyebabkan keanekaragaman hayati berkurang. Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit untuk menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung bermigrasi ke atas pegunungan. Sedangkan tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhan-nya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.

Tingkat keasaman laut akan meningkat dengan bertambahnya kadar CO2 di atmosfer. Hal ini akan berdampak negatif pada organisme laut seperti terumbu karang dan organisme-organisme yang hidupnya bergantung kepada terumbu karang.
Naiknya suhu perairan menyebabkan terjadinya pemutihan karang seluas 30 persen atau sebanyak 90 sampai 95 persen karang mati di Kepulauan Seribu.

Indonesia berada di sekitar khatulistiwa yang notabene merupakan daerah tropis yang memiliki keanekaragaman flora yang tinggi. Jika terjadi peningkatan suhu maka flora yang tadinya dapat bertahan pada suhu awal akan mati karena suhu tidak optimal lagi untuk bertahan hidup. Selain itu, kekeringan dan kemarau panjang mengakibatkan flora tidak bisa hidup karena tidak dapat mencukupi kebutuhan air untuk pertumbuhannya.

 

  • Gangguan Pertanian dan Ekonomi

Indonesia adalah negara agraris dengan tingkat produktivitas yang rawan mengalami gangguan akibat dampak global warming. Secara global, dengan luas wilayah hutan tropis terbesar ketiga di dunia, posisi Indonesia sangat menentukan kondisi iklim dunia. Namun sebagai negara berkembang, kemampuan ekonomi dan teknologi Indonesia belum siap dalam menghadapi perubahan yang diakibatkan oleh pemanasan global. Peningkatan temperatur permukaan bumi akan menyebabkan pertanian di negara-negara di sekitar khatulistiwa akan terganggu karena terjadinya pergeseran temperatur dari kondisi yang sudah optimal saat ini.

Pengaruh pemanasan global di indonesia menyebabkan perubahan iklim, antara lain terlihat dari curah hujan di bawah normal, sehingga masa tanam terganggu dan meningkatnya curah hujan di sebagian wilayah. Kondisi tata ruang, daerah resapan air, dan sistem irigasi yang buruk semakin memicu terjadinya banjir, termasuk di area persawahan. Sebagai gambaran, pada 1995 hingga 2005, total tanaman padi yang terendam banjir berjumlah 1.926.636 ha dan 471.711 ha di antaranya mengalami puso. Sawah yang mengalami kekeringan pada kurun waktu tersebut berjumlah 2.131.579 ha, yang 328.447 ha di antaranya gagal panen.

Pada tahun 2006, seluas 189.773 ha tanaman padi mengalami gagal panen, dari 577.046 ha sawah yang terkena banjir dan kekeringan. Dengan rata-rata produksi 5 ton gabah per ha, gabah yang terbuang akibat kekeringan dan banjir pada 2006 mencapai 948.865 ton. Pemanasan global yang terjadi menimbulkan kerugian bagi produksi beras di kawasan Jawa-Bali karena mundurnya musim hujan dan pada masa kemarau tanaman pangan terancam mati tanpa irigasi memadai. Produktivitas pertanian mengalami penurunan, sehingga meningkatkan resiko terjadinya bencana kelaparan dan malnutrisi. Komunitas miskin sangat rentan karena kapasitas beradaptasi yang terbatas dan ketergantungan hidup terhadap sumber daya yang mudah terpengaruh oleh iklim seperti persediaan air dan makanan.
Selain itu.

Pemanasan global juga mempengaruhi peningkatan magnitude dan frekuensi kehadiran El Nino. Keberadaan El Nino selain menyebabkan sebagian besar wilayah dan lahan pertanian kita mengalami defisit air, juga dapat memicu semakin besarnya kebakaran hutan. Inilah yang terjadi di Indonesia pada 1987, 1991, 1994, dan 1997/ 1998. Kerugian ekonomi akibat kebakaran hutan pada 1997/1998 saja, menurut Konsorsium Nasional untuk Pelestarian Hutan dan Alam Indonesia, mencapai US$ 8.855, termasuk di dalamnya kerugian sektor perkebunan (berdasarkan luas area lahan yang terbakar) US$ 319 juta dan kerugian sektor tanaman pangan (berdasarkan penurunan produksi beras) mencapai US$ 2.400 juta

  • Gangguan Kesehatan

Selain menyebabkan gagal panen sehingga menimbulkan kelaparan/ malnutrisi, perubahan cuaca yang drastis dapat mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit yang berhubungan dengan panas (heat stroke) dan dapat menyebabkan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan bencana alam (banjir, badai, dan kebakaran) dan kematian akibat trauma. Timbulnya bencana alam biasanya disertai dengan perpindahan penduduk ke tempat pengingsian yang sering menimbulkan penyakit seperti diare, malnutrisi, defisiensi mikronutrien, trauma psikologis, penyakit kulit, dan lain-lain.

Pergeseran ekosistem  memberi dampak pada penyebaran penyakit melalui air (Waterborne diseases) maupun penyebaran penyakit melalui vektor (vector-borne diseases). Seperti meningkatnya kejadian demam berdarah karena munculnya ekosistem baru untuk nyamuk ini berkembang biak. Dengan adanya perubahan iklim ini maka ada beberapa spesies vektor penyakit (misalnya Aedes Agipty), virus, bakteri, plasmodium menjadi lebih resisten terhadap obat tertentu yang targetnya adalah organisme tersebut. Perubahan iklim (Climate change) kemarau panjang/ kebakaran hutan, musim hujan yang tidak menentu bisa berdampak kepada peningkatan kasus penyakit tertentu seperti ISPA.

Gradasi Lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran limbah pada sungai juga berkontribusi pada waterborne diseases dan vector-borne disease. Ditambah pula dengan polusi udara hasil emisi gas-gas pabrik yang tidak terkontrol selanjutnya akan berkontribusi terhadap penyakit-penyakit saluran pernafasan seperti asma, alergi, coccidiodomycosis, penyakit jantung dan paru kronis, dan lain-lain.

 

  1. PENUTUP

    1. Kesimpulan
  • Pemanasan global adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.
  • Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir.
  • Pemanasan global disebabkan oleh dua hal, yaitu adanya efek rumah kaca dan efek umpan balik.
  • Efek rumah kaca akan menyebabkan pemanasan global apabila gas-gas rumah kaca telah berlebihan di atmosfer dan akan mengakibatkan pemanasan global karena dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.
  • Setiap gas rumah kaca memiliki efek pemanasan global yang berbeda-beda.
  • Sumber gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global antara lain berasal dari pembangkit Energi, peternakan, industri, alih fungsi lahan dan pembabatan hutan , transportasi, hunian komersil, pertanian, dan sampah.
  • Penyebab lain pemanasan global adalah pengaruh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri.
  • Pemanasan global juga memberikan dampak, antara lain iklim mulai tidak stabil, peningkatan permukaan laut, suhu global cenderung meningkat, gangguan ekologis, dampak pemanasan global terhadap kesehatan, dan dampak terhadap sosial ekonomi.
  • Akibat pemanasan global, ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut.
  • Dampak pemanasan global jelas akan meningkatkan suhu global. Adanya peningkatan suhu ini tidak selamanya akan memberikan keuntungan bagi manusia terutama dalam hal produksi pangan.
  • Dampak pemanasan global terhadap ekologi akan terjadi karena hewan dan manusia akan merasakan dampak dari pemanasan global. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat.
  • Pemanasan gobal juga akan berdampak terhadap kesehatan manusia karena pemanasan global ini akan mempengaruhi kondisi tempat lingkungan tinggal manusia. Perubahan terhadap kondisi lingkungan ini akan berpengaruh terhadap kesehatan.
  • Pemanasan global juga akan berdampak terhadap kondisi sosial dan ekonomi. Sebagai contoh, Jika terjadi  kenaikan air laut di Indonesia maka akan hilangnya pulau-pulau kecil merupakan ancaman langsung, tidak saja berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi dan ekosistem tetapi juga terhadap Geopolitik mengingat pulau terluar merupakan pijakan penting dalam menentukan batas wilayah dengan negara lain.
  • Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca sebagai penyebab pemanasan global. Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbonnya di tempat lain. Cara ini disebut carbon sequestration (menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah kaca.
  • Menghilangkan karbon (carbon sequestration) dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu di bawah tanah atau penyimpanan air tanah dan penyimpanan di dalam tanaman hidup
  • Sedangkan teknik yang efektif untuk membatasi emisi karbon ada dua yakni mengganti energi minyak dengan sumber energi lainnya yang tidak mengemisikan karbon dan yang kedua penggunaan energi minyak sehemat mungkin.
  • Energi alternatif yang dapat digunakan diantaranya angin, sinar matahari, energi nuklir, dan panas bumi.
  • Global warming yang terjadi dewasa ini memberikan perubahan yang sangat signifikan di berbagai negara di belahan bumi, tidak terkecuali Negara Indonesia.
  • Beberapa sektor yang mengalami perubahan akibat adanya global warming antara lain perubahan iklim Indonesia, berkurangnya keanekaragaman hayati, gangguan pertanian dan ekonomi, dan gangguan kesehatan.

  1. Saran dan Pendapat

Banyak hal yang bisa dilakukan sebagai warga Bumi untuk turut berperan serta mengatasi peristiwa Pemanasan Global (Global Warming) dan Perubahan Iklim (Climate Change) yang sedang dialami Bumi, dimulai dari hal-hal kecil yang dapat dilakukan oleh semua orang dari rumah tempat kita tinggal, diantaranya seperti hal-hal berikut ini:i, diantaranya:

  1. Hemat energi, dengan cara:
  • Mematikan peralatan listrik jika sedang tidak digunakan.
  • Hanya menggunakan peralatan listrik ketika kita membutuhkannya.
  • Tidak menggunakan peralatan yang menggunakan listrik; jika dapat dengan mudah dilakukan dengan tangan, seperti membuka kaleng, botol dsb.
  • Hubungkan lampu di halaman rumah dengan sebuah alat pengatur waktu (timer) atau fotocel sinar matahari.
  • Gunakan jenis lampu fluorescent dan lampu hemat energi untuk menghemat listrik. Jenis lampu hemat energi akan memangkas 80 % boros listrik daripada lampu pijar.
  • Mematikan peralatan listrik dan menggunakan penerangan seminimal mungkin di malam hari ketika akan pergi tidur.
  • Mematikan pemanas air sebelum Anda berangkat untuk pergi berlibur.
  • mengganti  kulkas lama jika sudah boros listrik dan jangan lupa mendefrost kulkas secara teratur.
  • Membersihkan dan mengeluarkan barang/makanan yang tidak perlu dari kulkas setiap minggu.
  • Jangan memasukkan makanan panas di dalam lemari es.
  • Jangan terlalu sering dan dalam waktu lama membuka pintu lemari es, karena akan boros listrik.
  1. Menggunakan produk ramah lingkungan
  • menggunakan plastik biodegradabel
  1. Stop penebangan hutan
  2. Membuang sampah pada tempatnya
  3. Menanam pohon

    Pohon-pohon yang kita tanam di halaman rumah sekecil apa pun halamannya, sudah pasti akan berperan untuk menetralisir CO2 di udara sekaligus menyegarkan dan menyehatkan kita. Jangan ragu untuk mulai menanam pohon dan terus tambah koleksi tanaman di halaman rumah, misalnya tanaman hias, bunga, buah atau apotik hidup, sayuran dan bumbu dapur tidak masalah. Jika sebagian besar warga bumi melakukannya, akan memberikan manfaat yang sangat signifikan untuk mereduksi CO2 di udara dan pada akhirnya pemanasan global pun dapat diredam.

  4. Hemat air
  • tidak mencuci piring dengan air yang mengalir terus menerus.
  • Tidak menggosok gigi, juga dengan kran air yang mengalir, karena air akan banyak terbuang dalam 1 menit terbuang sekitar 10 liter.
  • Mandi menggunakan gayung yang terukur dan seperlunya, daripada memakai kran shower dengan air mengalir atau berendam pada ‘bath-tub’. Demikian pula untuk mencuci mobil, cukup menggunakan ember dan gayung daripada menggunakan selang dengan air mengalir.
  • Menggunakan air dingin pada mesin cuci daripada air panas.
  • Flush toilet seperlunya (jangan terlalu sering). Memastikan pelampung/radar pada tangki penyimpanan air bekerja dengan baik, demikian juga pada kran dan monoblock di toilet, cegah kebocoran agar tidak boros air.
  • Mengunakan air bilasan cucian pakaian terakhir untuk menyiram tanaman.
  • menggunakan air bilasan cucian beras, buah dan sayur juga untuk menyiram tanaman.
  • Menadah air hujan dan manfaatkan untuk menyiram tanaman, membersihkan lantai dsb. 
  1. Menggunakan prinsip reuse, reduse, dan recycle.
    1. Reuse
  • Mengunakan keramik atau gelas cangkir kopi bukan cangkir sekali pakai seperti yang terbuat dari plastic dan Styrofoam.
  • mengunakan kembali kantong plastik dan wadah penyimpan barang lainnya.
  • Menggunakan kertas bekas surat dan amplopnya, kalender bekas, untuk kertas corat-coret atau catatan keperluan sehari-hari.
  • Mengunakan kembali kertas HVS yang baru dipakai 1 muka menjadi 2 muka atau bolak-balik.
  • Mengunakan kain serbet, sapu tangan yang bisa digunakan kembali daripada kertas tissue dan kertas pembersih sekali pakai lainnya.
  • Menggunakan ‘reusable‘  piring, botol minum dan alat makan yang bukan sekali pakai.
  • Menggunakan wadah  yang dapat digunakan kembali  untuk menyimpan makanan, bukannya aluminium foil dan bahan plastik lainnya.
  • Reuse kemasan dari bahan karton untuk pengiriman barang.
  • Menggunakan kembali koran lama untuk membungkus dan ‘mengepak’ barang.
  • Berbelanja ke toko dengan tas kanvas daripada menggunakan tas kertas dan kantong plastik.
  • Mengecat dengan kuas dan rol yang bisa dipakai lagi daripada menggunakan cat semprot yang mengeluarkan emisi berbahaya.
  1. Reduse
  • Menghemat penggunaan kertas dan tissue karena terbuat dari kayu yang harus ditebang dari pohon di hutan, sedangkan hutan dibutuhkan untuk menetralisir emisi CO2 di udara.
  • Memelihara, merawat dan memperbaiki barang-barang yang kita miliki dan sudah digunakan daripada sering membeli baru.
  • Hanya membeli perangkat mebel. yang benar-benar digunakan.
  • Membeli dan menggunakan  baterai ‘rechargeable’ untuk perangkat yang sering digunakan.
  • memprioritaskan membeli produk yang berlabel ramah lingkungan.
  • Membeli dan makan sayuran organik, pasti lebih menyehatkan dan ramah lingkungan.
  • membeli produk-produk buatan lokal untuk mengurangi buangan emisi dari transportasi.
  • membeli makanan/minuman, sayuran/buah-buahan lokal, karena lebih murah dan lebih terjamin kesegarannya.
  • Membeli produk yang bisa didaur ulang atau terbuat dari bahan daur ulang.
  • menghindari produk dengan beberapa lapis kemasan, jika hanya satu juga cukup. Dengan kata lain jika memungkinkan beli produk dalam jumlah grosir yang lebih murah dan hemat kemasan daripada beli eceran yang lebih mahal dan butuh banyak kemasan. Contoh pembelian sabun cuci ukuran 1 kg, lebih baik dari pada ukuran sachet kecil.
  • menghindari membeli produk makanan yang dikemas dalam plastik atau wadah styrofoam karena  tidak dapat didaur ulang.
  • menghindari atau mengurangi juga pemakaian peralatan makan/minum seperti sendok/garpu dan sedotan minuman yang terbuat dari plastik.
  • Menghindari ‘fast food’ karena jenis makanan ini merupakan penghasil sampah terbesar di dunia, selain itu juga kurang baik terhadap kesehatan.
  • Minimalkan penggunaan pestisida. Menghindari penggunaan ‘racun tikus’ dari bahan kimia, jika ingin membunuh atau mengusir tikus, tapi menggunakan jebakan tikus tradisional dengan umpan ikan asin misalnya.
  • Berhenti menggunakan semprotan aerosol untuk mengurangi CFC yang akan mengganggu lapisan Ozon Bumi.
  • Mengurangi penggunaan bahan kimia saat membersihkan semua sudut rumah.
  • Tidak membeli produk yang dibuat dari hewan langka.
  • Mengurangi konsumsi daging (flexitarian) atau bila memungkinkan jadilah vegetarian.  
  1. Recycle
  • Menggunakan pakaian yang terbuat dari bahan yang ramah lingkungan.
  • Menggunakan tas daur ulang untuk menyelamatkan lingkungan.
  • Recycle segalanya: koran, botol dan kaleng, plastik, kulit, kaca dan aluminium serta bahan anorganik lainnya.
  • Memanfaatkan sampah non organik untuk didaur ulang menjadi produk kerajinan tangan yang indah.
  • Mengumpulkan sampah dan membuang di tempat yang sesuai dengan peruntukkannya, jika memungkinkan memisahkan yang organik dan non organik. Sampah organik bisa dimanfaatkan untuk pupuk kompos sedangkan yang non organik bisa diolah kembali menjadi barang yang memberikan manfaat, daripada dibuang sembarangan misalnya ke sungai, danau dan laut terutama yang terbuat dari plastik sungguh akan merusak lingkungan, karena bahan plastik yang asal mulanya dibuat dari minyak bumi ini, baru bisa terurai minimal setelah mencapai waktu 200 tahun.
  • Barang plastik bekas seperti: ember, kemasan cat dinding, botol bekas minuman dan lainnya bisa dipakai ulang atau dikreasikan menjadi pot tanaman yang indah.
  1. Pemanfaatkan Sumber Energi dari Alam :
  • Menggunakan tenaga surya untuk rumah dan pemanas air.
  • Menggunakan sinar matahari untuk mengeringkan pakaian Anda.
  • Menggunakan pencahayaan dari sinar matahari secara optimal, bukannya mengandalkan lampu listrik.
  • Membuka jendela, agar angin dapat berhembus masuk untuk menyejukkan dan menyegarkan  ruangan di rumah anda, daripada menggunakan penyejuk udara buatan yang boros listrik seperti AC.  Jika tetap menggunakan AC, jangan lupa bersihkan AC secara teratur, akan menghemat listrik. Jangan lupa setel ‘timer’ pada AC agar berhenti pada saat sebelum fajar. Exhaust fan juga bisa digunakan untuk membantu pertukaran udara segar di dalam ruang, jika sirkulasi angin belum maksimal.
  • Jika ingin membangun rumah tinggal jangan lupa memanfaatkan sirkulasi udara angin dan cahaya alamiah dari matahari secara optimal. Pada Negara yang sudah sangat peduli Bumi, seperti Swedia, Denmark dan juga Jepang, pemakaian listrik sudah mulai memanfaatkan tenaga kincir angin dan panel surya, semoga di Indonesia bisa segera diterapkan juga, mengingat listrik dari PLN pun sekarang belum bisa menjangkau seluruh pelosok daerah terutama daerah terpencil.
  1. Informasikan Bahaya Pemanasan Global, Dan yang lainnya:
  • Memberitahu kepada sebanyak mungkin orang sebagai warga Bumi, akan bahaya Pemanasan Global.
  • Mengajarkan anak dan cucu untuk menghormati serta turut menjaga alam dan lingkungan.
  • Meluangkan waktu untuk memberi informasi atau terlibat dalam kegiatan sosial untuk membantu menyayangi Bumi.
  • Memberikan sumbangan uang, tenaga dan pikiran serta barang-barang yang dapat didaur ulang pada yayasan atau organisasi sosial yang menangani proyek-proyek konservasi alam lingkungan.

Dengan melakukan salah satu dari di atas maka kita semua sudah dapat menyelamatkan bumi dari kehancuran, stop global warming sangat tidak mungkin, mengurangi dampak pemanasan global adalaha jawaban yang mungkin.

 

  1. KEPUSTAKAAN

     

    Firnansyah. 2008. Penyebab Global Warming : Efek Umpan  Balik,(Online)( http://firmansyah11.wordpress.com/2008/12/25/penyebab-global-warming-efek-umpan-balik/, diakses 14 Novmber 2010).

    Deddy Andaka. 2010. Dampak Pemanasan Global Terhadap Kesehatan, (online) http://http://www.andaka.com/pengaruh-pemanasan_global-terhadap-kesehatan.php, diakses tanggal 14 November 2010.

    Amri. 2009. Istilah Pemanasan Global. (online), http://wordpress.com, diakses tanggal 14 November 2010.

    Chintamy.2009. Pemanasan Global. (online) http://wordpress.com, diakses tanggal 14 November 2010.

    Anonim. 2007. Dampak Pemanasan Global. (online) http://http://www.pemanasanglobal.net/…/apa-dampak-dari-pemanasan-global.htm, diakses tanggal 14 November 2010

    Anonim. 2007. Dampak Pemanasan Global Terhadap Ekosistem. (online) http://id.shvoong.com, diakses tanggal 14 November 2010.

    Anonim. 2007. Pemanasan Global.(online) http://geo.um.ac.id/archive/28, diakses tanggal 14 November 2010.

    Anonim. 2008. Dampak Pemanasan Global dapat menyebabkan bencana di Bumi. (online) http://godsdirectcontact.or.id.sos.index.htm, diakses tanggal 14 November 2010.

    Anonim. 2009. Dampak Pemanasan Global Jauh Lebih Buruk. (online) http://sains.kompas.com, diakses tanggal 14 November 2010.

    Anonim. 2010. Pengendalian Pemanasan Global. (online) http://poetoegaul.multiply.com, diakses tangal 14 November 2010.

    Dedi Dwitagama. 2007. Pengendalian Pemanasan Global, (online) http://dedidwitagama.wordpress.com, diakses tanggal 14 November 2010.Tampilkan hasil lainnya dari pemanasanglobal.netTop of Form

    Bottom of Form

    Tampilkan hasil lainnya dari pemanasanglobal.net

     

    Anonim. 2008. Pengendalian pemanasan global. (online) http://arialat.multiply.com/journal/item/4, diakses tanggal 14 November 2010.

    Anonim 2009. Stop Global Warming: Pengendalian pemanasan global . (online) http://multi-account.blogspot.com/…/pengendalianpemanasanglobal_16.html, diakses tanggal 14 November 20010.

    Anonim. 2010. Pengendalian Pemanasan Global. (online), http://http://www.lintasberita.com/…/Pengendalian_Pemanasan_Global, diakses tanggal 14 November 2010

     

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 November 2010 in kimia

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: